PENGEMBANGAN
KREATIVITAS
DAN KEBERBAKATAN
Disusun Oleh :
Nama :
1.
Fahdiah
Auditawati (13514771)
2.
Jessica
Phoibe (15514649)
3.
Riski Wahyu Kurniawan (19514500)
Kelas :
1PA18
UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI
2014/2015
FAKULTAS PSIKOLOGI
2014/2015
Pembelajaran Anak Berbakat
Anak
berbakat adalah anak yang oleh orang – orang profesional diidentifikasi sebagai
anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan –
kemampuan unggul. Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang
berdiferensiasi dan pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa agar
dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk
pengembangan diri sendiri. Dari beberapa pendapat ahli maka
anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan yang lebih menonjol dari
aspek intelektual, kreatif, seni, kepemimpianan atau bidang akademik tertentu
yang menghasilkan prestasi tinggi. Istilah yang melukiskan anak-anak berbakat,
cerdas atau cemerlang yaitu genius, talented, gipted dan bright atau superior.
Persamaan dari istilah-istilah tersebut adalah penyimpangan ke atas dari
rata-rata. Sedangkan perbedaannya adalah:
1. Genius
Digunakan pada mereka yang memiliki kemampuan unggul
berhasil mencapai prestasi yang luar biasa, memberikan sumbangan yang orisinal
dan bermutu, serta mempunyai makna yang universal atau mantap.
2. Talented
Suatu bakat khusus yang tidak selalu menghasilkan
prestasi yang luar biasa, tidak perlu orsinil atau dampak yang universal.
3. Gifted
atau berbakat
Mempunyai kesamaan dengan genius, karena keduanya
berkaitan dengan kualitas intelektual, namun berbakat belum tentu terwujud
dalam suatu karya unggul yang mendapat pengakuan universal. Jadi tidak semua
anak berbakat merupakan anak genius.
4. Bright
atau superior
Karakteristik seseorang yang memiliki intelegensi
yang tinggi.
1.
Ciri-ciri
Anak Berbakat
a. Intelektual/Belajar
Mudah
menangkap pelajaran, ingatan baik, pembendaharaan kata luas, penalaran tajam
(berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik,
menguasai banyak bahan tentang berbagai topik, senang dan sering membaca,
ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus
maupun peta dan ensiklopedi. Cepat memecahkan soal, cepat menemukan kekeliruan
atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam suatu uraian, mampu membaca pada
usia lebih muda, daya abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani berbagai hal.
b. Kreativitas
Dorongan
ingin tahunya besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak
gagasan dan usul terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat,
mempunyai rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai
pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang
lain, rasa humor tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi
(tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya. Dalam pemecahan
masalah menggunakan cara-cara orisinal yang jarang diperlihatkan anak-anak
lain), dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, kemampuan
mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi).
c. Motivasi
Tekun
menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama, tak berhenti
sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas putus asa), tak
memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami bahan/bidang
pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak
cepat puas dengan prestasinya), menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah
"orang dewasa" (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan
sebagainya).
d. Pengamatan
yang Siaga dan Cermat
Seorang
anak memperhatikan apa yang berlansung dalam lingkungannya. Ia melakukannya
tidak saja dengan gerak – gerik, tetapi juga melalui pandangan mata.
e. Bahasa
Anak
berbicara lebih cepat dibandingkan dengan anak – anak sebayanya. Ia mampu
menggunakan kata – kata yang lebih sulit dan kalimat – kalimat yang lebih
majemuk
f. Keterampilan
Motorik
Anak dapat menanggapi atau benda dengan lebih
tepat dan tidak cepat menjatuhkannya. Ia dapat membuat bangunan dalam permainan
balok atau kotak yang lebih sulit dan menempatkannya dengan keseimbangan yang
baik, misalnya pada pembuatan menara tinggi. Selain itu, juga tampak dalam
menggambar dan berolahraga.
g. Membaca
Sudah
dapat membaca sebelum masuk sekolah dasar, dan biasanya belajar sendiri. Ketika
masih bayi, tidak pernah memegang buku gambar terbalik. Gambar – gambar itu pun
sepertinya dibaca dari kiri ke kanan.
h. Matematika
Seperti
halnya membaca, keterampilan matematika dimulai dengan memahami konsep – konsep
yang mendasarinya. Anak cepat menunjukkan perhatian terhadap waktu, ukuran dan
hitung – menghitung. Anak banyak mengajukan pertanyaan tentang berapa lama,
berapa banyak dan pertanyaan – pertanyaan sejenisnya. Anak cepat mengingat hari
– hari ulang tahun, usia seseorang dan hal – hal yang berhubungan dengan angka.
i.
Ingatan
Anak
mempunyai ikatan yang baik tentang pengalaman atau pengetahuan yang diperoleh.
Anak ingin mengetahui sesuatu dan sering bertanya tentang hal – hal yang tidak
diperhatikan oleh orang lain.
j.
Rasa Ingin Tahu dan Keuletan
Dalam
hal – hal mengajukan pertanyaan, anak tidak sekedar bertanya mengenai siapa
atau apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana dan sebagainya. Untuk memperoleh
jawabannya, anak sangat gigih dan keras hati.
k. Semangat
Mereka
biasanya menunjukkan semangat dan energi yang sangat besar. Oleh karena itu,
tidak mengherankan jika minat dan kegiatannya beragam hingga mengakibatkan
kurang tidur.
l.
Persahabatan
Mereka
menyukai teman – teman yang lebih tua atau senang bersama orang dewasa.
2.
Implikasi
Dalam Pembelajaran Anak Berbakat menurut Barbe & Renzulli
Menurut Barbe dan Rezulli anak berbakat umumnya
tidak hanya belajar lebih cepat tetapi juga menggunakan cara yang berbeda dari
teman seusianya. Hal ini tidak jarang membuat guru disekolah mengalami
kewalahan, bahkan sering terganggu oleh anak-anak seperti itu oleh karena itu
Barbe dan Ranzulli menyimpulkan implikasi bagi guru untuk anak berbakat (Munandar,
1999: 62) sebagai berikut:
a. Pertama-tama
guru perlu memahami diri sendiri, karena anak yang belajar tidak hanya
dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tapi juga bagaimana guru
melakukannya. Mustahil mengharapkan seseorang dapat memahami kebutuhan,
perasaan, dan perilaku orang lain, jika ia tidak mengenal diri sendiri. Dalam
menghadapi siswa-siswanya, guru yang baik selalu menilai kemampuan, persepsi,
motivasi, dan perasaan-perasaanya sendiri. Guru perlu menyadari baik kekuatan-kekuatan
maupun kelemahan-kelemahannya. Anak berbakat akan paling maju di bawah
bimbingan guru yang memiliki kecerdasan cukup tinggi, memiliki pengetahuan umum
yang luas, serta menguasai mata pelajaran yang diajarkannya secara cukup
mendalam. Jika guru pada saat-saat tertentu tidak mengetahui sesuatu dan tidak
dapat menjawab pertanyaan siswanya, adalah lebih baik mengatakan “Saya tidak
tahu: marilah kita cari jawabannya bersama-sama!” atau “Berilah saya waktu
untuk memikirkannya!” Jawaban seperti ini akan lebih mendapat penghargaan dan
kepercayaan siswa daripada jika guru menjawab asal saja. Mengapa? Karena anak
berbakat bersifat kritis, mempunyai kemampuan penalaran yang tinggi, dan suka
mempertanyakan segala sesuatu. Guru perlu juga menguji perasaan-perasaannya
terhadap anak berbakat. Sikap menguji atau mempertanyakan dari anak berbakat
dapat menjengkelkan guru yang bersifat otoriter. Penjelasan guru yang biasanya
diterima begitu saja oleh kebanyakan anak mungkin diragukan oleh anak berbakat.
Jika guru menunjukkan perasaan tidak senang oleh pertanyaan-pertanyaan anak
berbakat, ia dapat mematikan rasa ingin tahu anak, sedangkan guru yang terbuka
terhadap gagasan dan pengalaman baru akan meluaskan dimensi minat anak.
b. Di
samping memahami diri sendiri, guru guru perlu memiliki pengertian tentang
keberbakatan.
Oleh karena itu, guru
yang akan membina anak berbakat perlu memperoleh informasi dan pengalaman
mengenai keberbakatan, tentang apa yang diartikan tentang keberbakatan,
bagaimana ciri-ciri anak berbakat dan dengan cara-cara apa saja kebutuhan
pendidikan anak berbakat dapat terpenuhi. Dengan mengetahui kebutuhan-kebutuhan
pendidikan anak berbakat, guru akan menyadari bahwa anak-anak ini memerlukan
pelayanan pendidikan khusus yang terletak di luar jangkauan kurikulum biasa.
c. Setelah
anak berbakat diidentifikasi, guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan
belajar sesuai dengan perkembangan yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak.
Sehubungan dengan ini
guru hendaknya lebih berfungsi sebagai
fasilitator belajar daripada sbagai instructor (pengajar) yang
menentukan semuanya. Fungsi pendidik adalah mempersiapkan siswa untuk belajar
seumur hidup. Setiap anak dilahirkan dengan rasa ingin tahu. Ia terbuka
terhadap pengalaman baru dan belajar dari pengalamannya sesuai dengan
kebutuhannya. Hanya sayang, pada waktu anak mulai masuk sekolah sering dorongan
alamiah untuk belajar ini terkekang karena kurikulum yang kaku dan program
belajar yang tidak beragam (berdiferensiasi), artinya tidak disesuaikan dengan
kemampuan dan minat anak. Jika dorongan alamiah ini terhambat di sekolah, rasa
ingin tahu anak akan mati dan berganti menjadi sikap apatis, acuh tak acuh.
Karena itu, diperlukanmotivasi eksternal (berupa dorongan, pujian, teguran dari
guru dan orang tua) dan system penghargaan (nilai-nilai prestasi belajar, angka
rapor) untuk menumbuhkan minat anak. Terutama anak yang cerdas dan berbakat
dengan rasa ingin tahu yang kuat dan minat yang luas akan merasa terhambat
dengan kurikulum yang hanya berorientasi pada mayoritas anak.
d. Guru
anak berbakat lebih banyak memberikan tantangan daripada tekanan. Prakarsa
dan keuletan anak berbakat membuatnya tertarik terhadap tantangan. Ia senang
menguji kemampuan dan penglamannya terhadap tugas yang bermakna baginya. Ia
merasa tertantang untuk menjajaki hal yang sulit dan belum diketahui. Anak yang
berbakat dan kreatif cepat bosan dengan tugas-tugas rutin dan yang hanya
mengulang-ulang.
e. Guru
anak berbakat tidak hanya memperhatikan produk atau hasil belajar siswa, tetapi
lebih-lebih proses belajar.
Macam kegiatan belajar
yang lebih berorientasi kepada proses daripada terhadap produk semata-mata
dapat dilihat dari contoh-contoh berikut ini.
1) Pemecahan
masalah dengan lebih menekankan pada proses memperoleh jawaban daripada
jawabannya sendiri.
2) Membuat
klasifikasi (penggolongan).
3) Membandingkan
dan mempertentangkan.
4) Membuat
pertimbangan sesuai dengan criteria tertentu.
5) Menggunakan
sumber-sumber (kamus, ensiklopedi, perpustakaan).
6) Melakukan
proyek penelitian.
7) Melakukan
diskusi.
8) Membuat
perencanaan kegiatan.
9) Mengevaluasi
pengalaman.
f. Guru
anak berbakat lebih baik memberikan umpan-balik daripada penilaian.
Agar menjadi orang
dewasa yang mandiri dan percaya pada diri sendiri, anak harus belajar bagaimana
menilai pengalaman dan prestasi belajarnya. Anak yang berbakat cukup mampu
melakukan penilaian diri sejak mereka masuk sekolah. Guru perlu memberi
umpan-balik dan model prilaku, namun seyogyanya anaklah yang menilai diri
sendiri. Guru dapat memberikan umpan-balik dengan membuat catatan yang
menyatakan dimana letak kesalahan anak dan bagaimana ia sendiri dapat
memperbaikinya. Jika nilai dalam bentuk angka harus diberikan, maka sebaiknya
dilengkapi dengan catatan penjelasan.
g. Guru
anak berbakat harus menyediakan beberapa alternatif strategi belajar.
Termasuk salah satu hal
penting yang perlu diketahui anak ialah bahwa ada lebih dari satu cara untuk
mencapai sasaran atau tujuan, ada macam-macam kemungkinan jawaban terhadap satu
masalah, ada beberapa cara untuk mengelompokkan objek, dan ada beberapa sudut
pandang dalam diskusi. Hendaknya anak diperbolehkan menjajaki beberapa cara
atau jalan untuk mencapai tujuan. Kreativitas akan berkembang dalam suasana
yang memberika kebebasan untuk menyelidiki. Jika anak tidak dengan sendirinya
melihat macam-macam jalan yang dapat ditempuh, hendaknya guru mengarahkan
sehingga ia dapat melihat adanya macam-macam alternative strategi belajar.
h. Guru
hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa percaya diri
anak serta dimana anak merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan
pendapat dan keputusan.
Hendaknya setiap anak merasa aman
untuk mencoba cara-cara baru dan menjajaki gagasan-gagasan baru di dalam kelas.
Banyak anak yang kreatif terlambat dalam ungkapan diri karena takut mendapat
kritik, takut gagal, takut membuat kesalahan, takut tidak disenangi guru, atau
takut tidak memenuhi harapan orang tua. Dengan menciptakan suasana di dalam
kelas dimana setiap anak merasa dirinya diterima dan dihargai, serta guru
menunjukkan bahwa ia percaya akan kemampuan anak, maka akan terpupuk rasa harga
diri anak.
Selain itu orang tua diwajibkan dapat
mengembangkan perhatian dan kesempatan pada anak untuk mengembangkan bakat dan
minatnya serta member motivasi untuk berprestasi sebanyak mungkin. Intinya
pendidikan merupakan tanggung jawab bersama baik masyarakat, keluarga,
maupun sekolah.
3.
kurikulum
berdiferensiasi untuk anak berbakat
Istilah diferensiasi dalam pengertian kurikulum
menunjuk pada kurikulum yang tidak berlaku umum, melainkan dirancang khusus
untuk kebutuhan tumbuh kembang bakat tertentu. Kurikulum berdiferensiasi
(differrentiation instruction) adalah kurikulum pembelajaran yang memperhatikan
perbedaan-perbedaan individual anak. Walaupun model pengajaran ini
memperhatikan atau berorientasi pada perbedaan-perbedaan individual anak, namun
tidak berarti pengajaran harus berdasarkan prinsip satu orang guru dengan satu
orang murid. Berbeda dengan kurikulum reguler yang berlaku bagi semua siswa,
kurikulum berdiferensiasi bertujuan untuk menampung pendidikan berbagai
kelompok belajar, termasuk kelompok siswa berbakat. Melalui program khusus,
siswa berbakat akan memperoleh pengayaan dari materi pelajaran, proses belajar
dan produk belajar.
Kegunaan kurikulum berdiferensiasi yaitu memberi
pengalaman, pendidikan yang disesuaikan dengan minat & kemampuan
intelektual murid. Makna dari diferensiasi bagi siswa berbakat ialah
menumbuhkan rasa keberhasilan, kepuasan, dan tantangan , membuat siswa aktif
& merasa bosan sekolah, dan dengan demikian menghindari under achievement
atau putus sekolah. Penanganan anak-anak berbakat atau
cerdas dengan program pengayaan dan percepatan penuh banyak memiliki
kelemahan-kelemahan yang merugikan anak itu sendiri, maka telah dikembangkan
kurikulum alternative yaitu berdiferensiasi (differentiated instruction ). Pendekatan
ini menghendaki agar kebutuhan berbakat
dilayani di dalam kelas regular. Program ini menawarkan serangkaian pilihan
belajar pada berbakat dengan tujuan
menggali dan mengarahkan pengajaran pada tingkat kesiapan, minat, dan profil
belajar yang berbeda-beda.Kurikulum berdiferensiasi sangat penting ditekankan
untuk anak berbakat. Kurikulum ini memiliki tiga level kurikulum yaitu:
a. Prescribed Curriculum and
Instruction
Level pertama, prescribed
curriculum and instruction adalah kurikulum yang dikembangkan oleh standard
lokal dan tidak menyediakan kesempatan untuk strategi belajar yang cocok
untuk berbakat.
b. Teacher-Differentiated Curriculum
Pada level kedua, teacher-differentiated curriculum, guru memodifikasi kurikulum yang
telah ada menjadi kurikulum yang menarik dan menantang untuk berbakat. Disini,
murid tidak hanya dipandang sebagai seorang ‘murid’ saja, tetapi murid adalah
pembelajar aktif.
c. Learner-Differentiated Curriculum
Level ketiga, learner-differentiated
curriculum adalah level tertinggi dimana murid berbakat dianggap sebagai “producers of knowledge” bukan hanya “consumers of knowledge”. Level ini
mendukung perkembangan self-discovery, self-esteem, kreativitas, dan otonomi.
Selain perkembangan kognitif, pada level ini jug mengembangkan faktor sosial
dan emosional murid.
Perbedaan
penerapan kurikulum differensiasi dengan kurikulum umum, yaitu:
a. Konten
Muatan atau materi yang diberikan kepada anak
berbekat berbeda-beda sesuai dengan minat dan kemampuan anak.
b. Proses
Proses belajar anak berbakat, entah itu waktu maupun
caranya, dibedakan dengan anak umumnya sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
c. Produk
Dalam hal penugasan, anak berbakat diberikan beban
produk yang lebuh rumit dan kompleks daripada anak umum. Produk belajar itu
sendiri dapat berupa lisan, tulisan, ataupun benda.
Daftar Pustaka
Munandar, Utami. (2009) . Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat.
Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
S.C.U. Munandar. (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak
Sekolah. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Sekolah. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar